Empat Bulan Tanpa Hujan, Pemkab dan Warga OKU Gelar Salat Istisqa di Pesantren Alfakhriyah

banner 120x600
banner 468x60

BATURAJA, Sumatera Pos — Kemarau panjang yang memasuki bulan keempat membuat Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) bersama masyarakat melakukan ikhtiar dengan menggelar Salat Istisqa atau salat meminta hujan.

banner 325x300

Salat Istisqa dilaksanakan di halaman Pesantren Alfakhriyah, Kamis (27/8/2026), dan diikuti Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah, Wakil Bupati OKU Ir. H. Marjito Bachri, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama (Kemenag), masyarakat serta para santri.

Suasana khidmat terlihat ketika seluruh jamaah mengikuti rangkaian Salat Istisqa dan doa bersama. Kegiatan tersebut menjadi bentuk ikhtiar masyarakat OKU di tengah kondisi kemarau yang mulai berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah mengatakan Salat Istisqa dan doa bersama tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun di wilayah OKU.

Menurutnya, kemarau panjang juga perlu diantisipasi karena kondisi lahan yang semakin kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Seperti kita ketahui bersama, di beberapa daerah seperti Kalimantan dan Kabupaten Ogan Ilir sudah terkena dampak kebakaran hutan akibat tidak adanya curah hujan. Jadi dengan adanya kegiatan salat bersama dan doa bersama ini, mudah-mudahan Allah mengijabah doa kita bersama sehingga diturunkan hujan di OKU,” ujar Teddy.

Bupati Ingatkan Warga Jangan Buka Lahan dengan Membakar

Selain mengajak masyarakat berdoa, Teddy juga mengingatkan seluruh warga OKU untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.

Ia meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, kebiasaan tersebut berpotensi memicu kebakaran yang dampaknya tidak hanya merusak hutan dan lahan, tetapi juga mengancam kualitas udara.

Teddy mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah munculnya titik api di wilayah OKU.

“Ayo sama-sama jaga hutan di OKU. Jangan memulai atau menggerakkan orang lain membuka lahan dengan cara membakar. Mari kita jaga OKU dari kebakaran hutan dan lahan sehingga kualitas udara di OKU tetap baik dan terhindar dari kabut asap,” tegasnya.

Kemarau panjang menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama. Selain kesiapsiagaan pemerintah dan petugas di lapangan, kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi faktor penting untuk mencegah meluasnya dampak kekeringan maupun karhutla.

Melalui Salat Istisqa, pemerintah dan masyarakat OKU berharap hujan segera turun dan kondisi kemarau berkepanjangan dapat berakhir.

Di tengah ikhtiar tersebut, pesan untuk menjaga hutan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar juga menjadi bagian penting dari upaya bersama menjaga Bumi Sebimbing Sekundang tetap aman dari ancaman karhutla.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *